Friday, November 30, 2018

Laporan Kimia Dasar : Konsentrasi Larutan

ABSTRAK

Telah dilakukan percobaan berjudul “Konsentrasi Larutan” yang bertujuan agar praktikan mampu menjelaskan, menghitung, membuat larutan dengan konsentrasi tertentu, menstandarisasi larutan standar, serta mempelajari penentuan konsentrasi larutan dengan teknik titrasi. Prinsip yang digunakan adalah prinsip analisa kualitatif dan kuantitatif. Hasil dari percobaan ini adalah titrasi NaOH pada HCL menghasilkan perubahan warna menjadi merah muda ketika volume rata-rata mencapai 8,7 mL. Kesimpulan dari percobaan ini adalah hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan teori yang ada.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.            Latar Belakang
Dalam reaksi kimia, kesetimbangan kimia merupakan suatu keadaan dimana kedua reaktan dan produk hadir dalam konsentrasi yang tidak memiliki kecenderungan lebih lanjut untuk berubah seiring berjalannya waktu. Kesetimbangan kimia terjadi pada reaksi kimia yang reversibel. Reaksi reversibel adalah reaksi yang di mana produk reaksi dapat bereaksi balik membentuk reaktan. Kesetimbangan kimia tercapai ketika laju reaksi maju sama dengan laju reaksi balik dan konsentrasi dari reaktan-reaktan dan produk-produk tidak berubah lagi. Dengan demikian, tidak ada perubahan bersih dalam konsentrasi reaktan dan produk. Keadaan seperti ini dikenal sebagai kesetimbangan dinamis.
Hukum yang menjelaskan tentang Kesetimbangan Kimia dikemukakan oleh Gulberg dan Waage pada tahun 1866. Hukum Kesetimbangan Kimia sering dikenal dengan istilah Hukum Aksi Massa. Hukum tersebut dijelaskan bahwa pada suhu dan pada tekanan tertentu, perbandingan hasil kali antara konsentrasi zat-zat sebelah kiri yang masing-masing dipangkatkan dengan koefisien reaksinya adalah konstan. Zat-zat di sebelah kanan adalah zat hasil reaksi sedangkan zat-zat sebelah kiri adalah zat pereaksi. Menentukan ukuran seberapa jauh suatu reaksi berlangsung dengan menghitung harga K. Harga K menunjukkan banyaknya hasil kali reaksi yang terbentuk. Tetapan K akan membentuk tetapan kesetimbangan (K), Kp menyatakan kesetimbangan tekanan parsial (gas), dan Kx menyatakan kesetimbangan fraksi mol (larutan dan gas).
Titrasi adalah prosedur menetapkan suatu kadar larutan dengan mereaksikan sejumlah larutan tersebut yang volumenya terukur dengan suatu larutan lain yang telah diketahui kadarnya (larutan standar) secara bertahap. Berdasarkan jenis reaksi yang terjadi, titrasi dibedakan menjadi titrasi asam bassa, titrasi pengendapan, dan titrasi redoks. Percobaan ini menggunakan titrasi asam basa saja. Titrasi asam basa terlibat dalam penentuan solusi asidimetri dan alkalimetri. Titrasi yang menyangkut asam dan basa secara meluas digunakan dalam pengendalian analitik.
1.2.            Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah agar mahasiswa mampu menjelaskan, menghitung, dan membuat larutan dengan konsentrassi tertentu, menstandarisasi larutan standar, serta mempelajari penentuan kkonsentrasi larutan dengan teknik titrasi.
1.3.            Manfaat Percobaan
 BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
       Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat yang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat berpariasi. Larutan dapat berupa gas, cairan, atau padatan. Larutan encer adalah larutan yang mengandung sebagian kecil solute, relative terhadap jumlah pelarut. Sedangkan larutan pekat adalah larutan yang mengandung sebagian besar solute. Solute adalah zat terlarut. Sedangkan solvent (pelarut) adalah medium dalam mana solute terlarut (Baroroh, 2004).
Konsentrasi larutan (concentration of a solution) adalah jumlah zat terlarut yang terdapat di dalam sejumlah tertentu pelarut atau larutan. Yang paling bermanfaat untuk menyakan komposisi larutan dalam kimia adalah molaritas, molalitas, dan fraksi mol. Salah satu satuan yang paling umum dalam kimia adalah molaritas (M) atau konsentrasi larutan., yaitu jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan. Molaritas didefinisikan oleh persamaan berikut :
M = molaritas =
Prosedur untuk menyiapkan suatu larutan yang molaritasnya diketahui adalah sebagai berikut. Pertama-tama, zat terlarut ditimbang secara akurat dan kemudian dimasukkan kedalam labu volumetric melalui corong. Selanjutnya, air ditambahkan ke dalam labu, kemudian labu digoyangkan perlahan-lahan untuk melarutkan padatan. Setelah semua padatan melarut, air ditambahkan kembali secara perlahan sampai ketinggian larutan tepat mencapai tanda volume. Dengan mengetahui volume larutan (yaitu volume labu yang digunakan) dan kualitas senyawa (jumlah mol) yang terlarut, kita dapat menghitung molaritas larutan dengan menggunakan persamaan diatas (Chang, 2004).
            Satuan yang selanjutnya dalam kimia ada Molalitas (m), yaitu nisbah massa dan ini tidak bergantung pada suhu. Molalitas didefinisikan sebagai jumlah mol zat terlarut per kilogram pelarut.
M = molalitas =
Karena air memiliki rapatan 1,00 g.cm-3 pada suhu 20oC, maka 1,00 liter air bobotnya 1,00 x 10-3 g atau 1,00 kg. Dengan demikian, dalam larutan berair encer, jumlah mol zat terlarut per liter kira-kira sama dengan jumlah mol per kilogram air. Jadi, molaritas dan molalitas hampir sama nilainya. Untuk larutan tak berarir dan larutan pekat dalam air, molaritas dan molalitas tidak sama (Oxtoby, 2001).
            Fraksi mol suatu zat dalam campuran adalah jumlah mol dari zat tersebut dibagi dengan jumlah keseluruhan mol yang ada. Istilah ini diperkenalkan dalam pembahasan campuran gas dan hukum Dalton. Campuran biner yang mengandung n1 spesies 1 dan n2 mol spesies 2, fraksi mol X1 dan X2 adalah :
X1 =
X2 =   = 1- X1
Fraksi mol semua spesies yang ada harus berjumlah 1. Jika dimungkinkan untukk membuat perbedaan antara pelarut dan zat terlarut, label 1 menyatakan pelarut, dan label yang lebih tinggi untuk zat terlarut. Jika jumlah kedua cairan sebanding, misalnya dalam dalam pencampuran air dan alcohol, penentuan label 1 dan label 2 boleh yang mana saja (Oxtoby, 2001).
            Pemilihan satuan konsentrasi dilakukan berdasarkan tujuan pengukuran. Keuntungan penggunaan moslaritas adalah karena biasanya lebih mudah untuk mmengukur volume larutan  dengan menggunakan labu ukur yang telah dikalibrasi secara cermat.dibandingkan dengan menimbang pelarut. Dengan alas an ini, molaritas sering kali lebih disukai dibandingkan molalitas. Sebaliknya, molalitas tidak bergantung pada suhu, sebab konsentrasi dinyatakan dalam jumlah mol zat terlarut dan massa pelarut, sedangkan volume larutan umumnya meningkat dengan meningkatnya suhu. Laruutan yang memiliki molaritas 1,0 M pada suhu 25oC mungkin menjadi 0,97 M pada 45oC karena volumenya meningkat. Ketergantungan konsentrasi iini pada suhu dapat sangat mempengaruhi akurasi suatu percobaan (Chang, 2004).
            Titrasi adalah suatu motode yang digunakan untuk menentukan kadar dari suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi. Contohnya adalah bila melibatkan reaksi asam basa maka disebuat  sebagai titrasi asam basa. Proses titrasi digunakan suatu indicator yaitu suatu zat yang ditambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang dinyatakan dengan perubahan warna. Perubahan warna menandakan bahwa telah tercapainya titik titrasi (Brady, 1999).
            Telah diketahui sebelumnya bahwa didalam stoikiometri titrasi, titik ekuivalen dari reaksi netralisasi adalah titik pada reaksi dimana asam dan basa keduanya setara, yaitu dimana keduanya sama dan tidak berlebihan. Suatu larutan yang akan dinetralkan (misalnya asam), ditempatan di dalam flash bersamaan dengan beberapa tetes indikatorasam basa. Kemudian larutan lainnya (misalnya basa) yang terdapat di dalam buret, ditambahkan ke asam. Pertama ditambahkan cukup banyak, kemudian dengan tetesan hingga titik ekuivalen. Titik ekuivalen terjadi pada terjadinya perubahan warna indicator, titik pada titrasi dimana indicator warnanya berubah disebut titik akhir (Petrucci, 1997).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah neraca analitik, labu ukur, gelas erlenmeyer, gelas ukur, pipet tetes, batang pengaduk dan sendok plastik.
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah NaCl, alkohol, gula pasir, Phenolphtalein, NaOH, larutan HCl 0,1 M dan aquades.
3.2. Konstanta Fisik dan Tinjauan Keamanan
Tabel 3.1. Konstanta fisik dan tinjauan keamanan
No
Bahan
Berat Molekul (gram/mol)
Titik Didih
(oC)
Titik Leleh
(oC)
Tinjauan Keamanan
1.
NaCl
58,48
83,7
-144,22
Aman
2.
C6H12O6
180,16
351
62,9
Aman
3.
C20H14O4
318,32
32
263,7
Korosif, Toxic
4.
NaOH
40,01
146,5
-322
Korosif
5.
HCl
36,5
83,7
1,268
Korosif
6.
Aquades
18
100
0
Aman
7.
C2H5OH
46
78
-114,1
Mudah terbakar
            DAFTAR PUSTAKA
Baroroh, Umi. 2004. Diktat Kimia Dasar 1. Universitas Lampung Mangkurat, Banjar Baru.
Brady, James E. 1992. Kimia Universitas Asas & Struktur. Binarupa Aksara. Jakarta.
Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar: Konsep-konsep Inti Jilid 1 Edisi Ketiga. Terjemahan dari General Chemistry: The Essential Concepts Third Edition, oleh Department Kimia ITB, Erlangga, Jakarta.
Oxtoby, D.W. 2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern. Terjemahan dari Prinsiples Of Modern Chemistry, oleh Dr. Suminar Setiati Achmadi, Ph. D, Erlangga, Jakarta.
Petrucci dkk. 2007. Kimia Dasar Prinsip-Prinsip dan Aplikasi Modern Edisi kesembilan Jilid 1. Terjemahan dari  General Chemistry Principle and Modern Applicions Ninth edition , oleh Achmadi, Suminar Setiati, Erlangga, Jakarta.

1 comment:

  1. sipp mantap udah punya blog... ntar kita rapiin sama sama yaw

    ReplyDelete